Sabtu, 23 Februari 2013

puisi : pahlawan tak di kenal


Pahlawan tak dikenal
Sepuluh tahun yang lalu ia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang berperang
                             Dia tidak ingat bilamana dia datang
                             Kedua lengannya memeluk senapan
                             Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
                             Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang
Wajah sunyi setengah tengadah
Menatap sepi padang senja
Dunia tambah sepi di tengah derap dan suara menderu
Dia masih sangat muda
                             Hari itu 10 november, hujan pun mulai turun
                             Orang-orang ingin kembali memandangnya
                             Sambil merangkai karangan bunga
                             Tapi yang Nampak, wajahnya sendiri tak  dikenalinya
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring,
Tapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda

cerpen bahasa indonesia : uluran tangan


Uluran Tangan
            Sari tampak begitu murung. Tidak seperti biasanya, hari ini ia begitu pendiam. Sifat dan sikap yang sangat ramah dan sopan membuat teman-temannya ingin mengetahui penyebab perubahan sikap sari. Sebagai sahabat karibnya, aku juga ingin mengetahui penyebab kemurungan sari. Setiap hari sabtu, aku biasa mengajak sari berjalan-jalan bersama ayah, ibu, dan adik-adikku. Ayah dan ibuku sudah menggangap sari sebagai anaknya sendiri. Ayah sari telah meninggal lima tahun yang lalu karena sakit kanker paru-paru. Jadi, sekarang ibunyalah yang menopang kehidupannya bersama dengan keempat adiknya. Akan tetapi, aku sungguh tidak menyangka peristiwa yang sangat tidak aku inginkan terjadi. Sari menolak ajakanku dengan kasar dan mengatakan sesuatu yang menyakiti hatiku
            “ mulai sekarang, aku tak mau ikut kamu jalan-jalan lagi,” balasnya ketika kutanya dia mau ikut atau tidak. Aku betul-betul terkejut atas jawaban itu.
            Sesampainya di rumah, aku menceritakan semua peristiwa  yang kualami dan juga perubahan-perubahan yang terjadi pada diri sari kepad ibuku. Ibu sangat sabar dan bijaksana dalam menghadapi permasalahan. Karena itulah, setiap kali aku mendapatkan kesulitan, hanya kepada ibuku aku berkeluh kesah. Ibuku menasehati agar aku menyadari hakl itu.
            “ sil, sebaiknya kautanyakan kepada sari, kesulitan apa yang tengah ia hadapi!”
            “ apa benar ia mengalami kesulitan, bu ?”
            “ ibu rasa demikian, tidak mungkin sari berubah sikap jika tidak ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.”
            Betul juga, baiklah, aku akan mencoba menanyakannya.”
            Hari ini sari tidak masuk sekolah, di dalam suratnya ia sakit. Aku ingin tahu penyakitnya sehingga sepulang sekolah aku mampir ke rumah sari. Tetapi, begitu tiba di rumah sari, aku jadi kebingungan, apakah yang sedang terjadi? Dua hari……tiga hari……..lima hari…… sari tidak masuk sekolah. Sore itu aku baru pulang dari latihan upacara di sekolah. Aku terkejut ketika melihat sari dengan seragam sekolah berada di tikungan jalan. Pakaiannya sudah lusuh dan dekil, ia berdiri lunglai.
            “ sar….., sari……!” kucoba memanggilnya kutunggu apakah ia menanggapi panggilanku atau tidak. “ sil…., silvi……!” suaranya parau dan ia pun menghambur kepelukanku. Ia menangis, sedih. Aku mecoba membujuknya agar mau ku ajak pulang ke rumahku. Ia setuju, kusuruh dia mandi kemudian makan. Selanjutnya menceritakan dari awal sampai akhir. Akhirnya kami tahu bahwa sari belum membayar uang sekoah dan bu rati member renggang waktu hingga akhir bulan. Akan tetapi, hingga akhir bulan sari belum sanggup membayar akrena belum mendapatkan uang. Itu semua yang menyebabkan sari pergi dari rumah dan tidak masuk sekolah. Ayah dan ibuku menasehati agar sari tidak menggulangi perbuatannya pergi dari rumah.
            “ kasihan ibu dan adik-adikmu!”. Ayah dan ibuku mengangkat sari sebagai anak asuh dan akan membantu mencukupi kebutuhan keluarganya. Sari menangis haru dan bahagia. Dipeluknya ibuku dan diciumnya tangan ayahku. Sari memang anak yang rajin dan pandai, tidak ada salahnya ayah dan ibuku menjadikannya anak asuh. Malam itu juga, aku, ayah, dan ibuku mengantar sari pulang. Sari dan ibunya mengucapkan terima kasih kepada ayah dan ibuku serta bersyukur atas pertolongan Tuhan. Esok harinya, sari sudah kembali masuk ke sekolah dengan wajah berseri-seri. Bahagia, ya ia amat bahagia. Dalam hatiku pun menguvap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah mengulurkan pertolongan kepada hamba-hamba-Nya yang sedang menghadapi cpbaan.
            Harapanku, semoga kami slalu dalam lindungan dan pertolongan-Nya. Amin.  

Jumat, 22 Februari 2013

syair perahu


Syair     Perahu

Wahai muda kenali dirimu
Ialah perahu tamsil tubuhmu
Tiadalah berapa lama hidupmu
Ke akhirat jua kekal diammu
                                Perteguh jua alat perahumu
                                Hasilkan bekal air dan kayu
                                Dayung pengayuh taruh di situ
                                Supaya laju perahumu itu
Muaranya dalam, ikanpun banyak
Di sanalah perahu karam dan rusak
Karangnya tajam seperti tombak
Ke atas pasir kamu tersesak
                                Baiklah perahu engkau perteguh
                                Hasilkan pendapat dengan tali sauh
                                Anginnya keras ombaknya cambuh
                                Pulaunya jauh tempat berlab

Kamis, 21 Februari 2013

syair abdul muluk


Syair Abdul Muluk


Berhentilah kisah raja Hindustan
Tersebutlah pula suatu perkataan
Abdul hamid syah paduka sultan
Duduklah paduka bersuka-sukaan

                   Abdul muluk putra baginda
                   Besarlah sudah bangsawan muda
                   Cantik menjelis usulnya syahda
                   Tiga belas tahun umurnya ada

Parasnya elok amat sempurna
Petah menjelis bijak laksana
Memberi hati bimbang gulana
Kasih kepadanya mulya dan hina

cerita bahasa jawa


Jago Jawa Lan Jago Bangkok
                Sawijining dina jago kandha karo jago Bangkok. “kepriye to kok, nasibku kok sial. Ora kaya kowe tansah diopeni mung kari mangan lan turu. Kosok baline karo aku, yen ora ceker-ceker dhewe kelakon kaliren tenan.”
                “rumangsamu aku penak wa! Aku iki rekasa tansah dikurung kaya ngene. Malah kowe bisa bebas dolan mrana-mrene,” wangsulane jago Bangkok.
                “ya genah penak kowe kok, esuk wis didusi, didulang  iwak  mentah lan sega anget. Kowe kari klurak-kluruk,” kandhane jago jawa banjur ninggalake jago Bangkok. Ing batin jago jawa tetep meri karo nasibe jago Bangkok.
                Jago jawa wadhul karo jago kate. “te, padha-padha jago sing penak dhewe jago Bangkok. Ora rekasa golek pangan, wis diopeni saben dina.”
                ”ah, kowe kuwi kurang nrima ing pandum wa. Aja kabegjaning liyan mundhak ngebot-ngeboti dhewe,” pitutur jagon kate marang jago jawa. Jago kate lan jago jawa banjur padha ceker-cekergolek isine weteng. Sawetara kuwi keprungu kluruke  jago Bangkok ngganther tanpa kendhat sebab wis  wareg  wetenge.
                Dina esuke ora keprungu kluruke jago Bangkok. Tibake jago Bangkok  ndhekem wae. Cenggere kebak tatu. Matane bengep. Raine cacah-rucah kebak getih. Wingi  sore  jago Bangkok  mentas diedu bendarane.  Jago Bangkok kalah, bendarane gela, esuk kuwi jago Bangkok ora diopeni lan ora dipakani. Niyate arep dibeleh.
                Tenan, anake bendarane metu saka ngomah nggawa  lading  landhep. Kate sing meruhi kadadeyan kuwi banjur kandha marang jago jawa.
                “galo  wa, delengen nasibe Bangkok! Tarung  kalah, terus  ora diopeni. Malah saiki dibeleh. Apa kowe isih meri karo nasibe Bangkok?”
“wah or ate, mesake tenan nasibe Bangkok saiki”, wangsulane  jago  jawa karo ing batin ngelenggana  kudu nrima ing  pandum aja gampang  meri kabegjane liyan.